MANUSIA DAN CINTA KASIH
PENDAHULUAN
Cinta kasih, kasih sayang, kemesraan, pemujaan, dan belas kasihan merupakan bagian
hidup diri manusia. Bentuk-bentuk kehidupan yang dipenuhi rasa cinta kasih dan kasih
sayang dapat membangkitkan kreativitas manusia. Untuk mengungkapkan rasa kasih
sayang dan cinta kasih dapat melalui beberapa media. Melalui media bahasa, lahirlah
seni sastra; dengan media garis, warna, dan bentiik, lahirlah seni rupa; dengan media
nada, irama, dan suara, lahirlah seni musik, dan lain-lain.
Menurut Purwodarminto, cinta kasih adalah perasaan sayang, perasaan cinta, dan
perasaan suka pada seseorang. Secara sederhana cinta dapat dikatakan sebagai paduan
rasa simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang di antara
pria dan wanita, akan tetapi dapat pula di antara pria dengan pria atau wanita dengan
wanita. Dalam kehidupan keluarga, kasih sayang atau cinta kasih merupakan kunci
kebahagiaan. Dalam kasih sayang, sadar atau tidak sadar dan masing-masing pihak
dituntut rasa tanggung jawab, pcngorbanan, kejujuran, saling percaya, saling
pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang utuh. Bila
salah satu unsur kasih sayang itu hilang, sebagai misal tanggung jawab, maka retaklah
keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran juga dapat
mengancam kebahagiaan rumah tangga yang telah terbina.
Agar dapat memahami cinta kasih secara mendalam, berikut akan diuraikan tentang
cinta dalam kehidupan sehari-hari yang selalu menjadi masalah hangat untuk
diperbincangkan. Dalam membina gerakan cinta, yang pertama perlu cepat disadari
bahwa yang disebut cinta sama sekali bukan nafsu. Sulit dihindari bahwa atas dasar
cinta murni yang dirasakan seseorang terhadap orang lain yang berlawanan jenisnya,
akhirnya akan bermuara pada perkawinan, yang akan berlanjut pula pada hubungan
seksual.Oleh karena itu, rasanya sulit diterima bahwa seseorang menyatakan cinta
sejati.
Perbedaan cinta dengan nafsu dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. cinta bersifat manusiawi. Pada manusia cinta dapat tumbuh dan berkembang,
sedangkan pada binatang hanya terbatas pada nalurinya untuk melindungi.
b. cinta bensifat rohaniah, sedangkan nafsu sifatnya jasmaniah. Luapan cinta seseora
memberikan semangat dalam hidupnya dan bagi yang menerimanya dirasakan
sebagai kebahagiaan. Sementara nafsu yang jasmamah cenderung untuk
memuaskan dorongan seksual.
c. cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.
Pemberian cinta dilakukan secara halus karena rohaniab sifatnya, sedangkan
dorongan nafsu mudah dilakukan sebagai paksaan.
Menurut Sarwono (dalam Supartono,1996) bahwa cinta ideal memiliki tiga unsur,
yaitu keterikatan, keintiman, dan ikatan adalah adanya perasaan untuk bersama dia,
secara totalitas untuk dia, tidak mau bersama orang lain kecuali dengan dia.
Keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dari lingkungan yang menunjukkan
bahwa antara anda dan dia sudah stidah nyaris tak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan
formal seperti Ibu, Saudara telah digantikan dengan memanggil sebutan, seperti
sayang. Makan dan minum dalam satu piring atau cangkir tanpa rasa risi, saling
memakai uang tanpa rasa berutang, tidak saling menyimpan rahasia, dan sebagainya.
Kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa rindu jika lama tak
ketemu, ungkapan-ungkapan yang mengungkapkan rasa sayang, saling mencium,
merangkul, dan sebagainya.
Berbagai Bentuk Cinta
Dalam buku “Seni Mencintai”, Fromm (1983) mengartikan cinta sebagai sikap, suatu
orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, bukan
menuju satu “objek” cinta. Ta mengemukakan tentang macam-macam cinta, yaitu
cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotis, cinta diri sendiri, dan cinta pada Allah
SWT
1. Cinta Persaudaraan
Cinta
persaudaraan (agape dalam bahasa Yunani) diwujudkan manusia dalam
tingkah laku atau perbuatannya. Cinta per saudaraan tidak mengenal adanya batas-batas manusia yang berdasarkan suku bangsa, bangsa, ataupun agama. Dalam
cinta mi semua manusia sama, yaitu sebagai makhluk ciptaan Allah.
Cinta persaudaraan pada umumnya melekat dengan sikap tanpa pamrih. Secara
filosofis dibuatkan dengan jargon “cintailah sesamamu seperti engkau
mencintaidirimu sendiri”.
2. Cinta Keibuan
Kasih sayang yang bersumber pada cinta keibuan yang paling ash adalah yang
terdapat pada seorang ibu terhadap anak kandungnya. Seorang ibu yang
memperoleh benih anak dan suaminya tercinta akan memeliharanya secara hatihati dan penuh kasih sayang. Setelah anak lahir melalui penderitaan yang hebat dan
ibu, dirawat dan diasuhlah anak dengan penuh kasih sayang. Dalam proses
pengasuhan itu terdapat serangkaian tugas yang harus dilakukan ibu, yaitu
menyusui, merawat, menemani, memandikan, membelai, dan sebagainya. Bagi
seorang ibu tidak ada harta yang paling berharga kecuali kehadiran anak, yang
dianggap sebagai buah hati.
3. Cinta Erotis
Kasih sayang yang bersumber dan cinta erotis (sifat membirahikan), memang
merupakan suatu yang sifatnya eksklusif sehingga sering memperdayakan cinta
yang sebenarnya. Hal mi terjadi karena antara cinta dan nafsu dipersepsikan secara
sama. Padahal jika dicermati secara seksama, keduanya memihiki pengertian yang
berbeda bahkan bertolak belakang. Kasih sayang dalam cinta erotis merupakan
kontak seksual yang ash dan yang ideal bersumber dan cinta. Kasih sayang erotis
dapat menjadi perekat hubungan suami istri dalam membina hidup berkeluarga.
4. Cinta Diri Sendiri
Pada din individu, di samping harus mencintai sesama juga ada keharusan
mencintai din sendiri (self love). Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada din
sendiri identik dengan & Jika hal mi yang terjadi maka cinta pada din sendiri int
nilai negatif. Namun esensi mencintai din sendiri Incrigurus din sendiri sehingga
kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar. Setiap individu wajib
niencintai dininya sendiri.
5. Cinta pada Allah
Cinta pada Allah merupakan perwujudan pengabdian manusia ketika hidup di
dunia. Orang yang cinta pada Allah umumnya disebut religius atau taat beragama.
Hakikat Cinta Eksistensi
Manusia adalah koeksistensi. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendirian
tanpa adanya orang lain, dan kekuatan yang menyatukan manusia dengan manusia lain
ialah cinta. Relasi antara manusia tidak akan berarti tanpa didasarkan atas cinta.Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi, maka orang akan mengalami gangguan serius.karena itu cinta harus
diupayakan terus agar tidak punah. Caranya orang harus saling memberikan cinta.
Keadilan dan Cinta: “Batas kasih di atas keadilan”, pernyataan tersebut dikatakan
apabila yang memberi betas kasih itu juga yang memiliki hak, Misalnya seseorang
tertangkap sedang melakukan kejahatan, kemudian ia meminta maaf kepada orang
banyak supaya diberi belas kasih, tidak dibawa ke kantor polisi. Hukuman kepada
pencuri itu adalah hak warga masyarakat.
Cinta Sejati: Ada pandangan yang menyebutkan bahwa cinta sejati dapat diwujudkan
oleh manusia. Alasannya Cinta sejati bukan objek statis, tetapi situasi yang terus
berkembang ke kehidupan yang lebih bahagia. Ini tidak mungkin diupayakan dengan
sekali langkah, melainkan melalui proses jatuh bangun berkali-kali. Karena manusia
memiliki dimensi rohani yang bersifat tak terbatas. Dengan terbuka terhadap daya
rohani itulah dapat diwujudkan suasana damai dan bahagia. Contoh cinta sejati adalah
cinta ibu kepada anaknya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
HAKIKAT CINTA
SATU
Sejauh cinta ditelusuri dalam bingkai kepentingan publik luas, barangkali bukan saja di
Indonesia melainkan di seluruh jagat, sulit ditemukan cinta yang sejati. Meski para
koruptor dan pelanggar HAM tingkat kakap masih menyimpan cinta bagi anak istri
suami kerabat sahabat dan klik sendiri, tetapi sebab ujungnya merugikan kepentingan
umum, maka cinta mereka agaknya bukan cinta melainkan "cinta". Masalahnya, cinta
tidak pernah berdusta.
Dan, adakah koruptor dan pelanggar HAM tingkat kakap yang tidak melakukan dusta?
Tapi dalam dusta, tetap saja bergulung-gulung gelombang "cinta" mereka terhadap
siapa saja, yang membuat enak kepenak hidup mereka. Dus, "cinta" akan selalu
membuat enak kepenak bagi pihak terkait. Tetapi cinta, belum tentu. Karena itu mereka
lebih memilih "cinta" katimbang cinta.
Yang mau dikatakan dalam dua alinea di atas adalah, baru dalam satu diskursus ketika
perkara cinta dikaitkan dengan koruptor dan pelanggar HAM kakap, segera tampak,
betapa rumit berbelit cinta itu.. Di samping cinta, termasuk dalam terminologi yang mempunyai nilai
sekaliber itu misalnya adalah kebenaran, kebaikan, keadilan, perikemanusiaan,
kesejahteraan, perdamaian, solidaritas, keihklasan, kejujuran, dan terminolgi
sejenisnya.
Artinya, semua terminologi tersebut bisa terlukiskan dan dirumuskan menjadi apa saja,
tergantung individu-individu yang mengatakannya. Dan, individu adalah kata kunci
untuk bisa menelusuri hakikat, makna dan maksud cinta.
Sebab menyangkut individu, maka cinta bisa menjadi seluas mega, sehalus angin, sekuat
tembaga, sekencang cahaya, selentur kelenturan yang paling lentur. Sebab cinta menyangkut individu, dan tiap individu mau tak mau akan selalu berurusan
dengan cinta.
DUA
Dalam penelusuran hakikat cinta ini, di bagian lalu antara lain ditemukan, bahwa sekali
pun ternyata cinta amat kompleks dan luas,kenyataan adalah pada umumnya tak ada individu yang bisa lepas dari situasi sosial.
Karena itu, legimitas cinta juga harus ditelusuri dari letaknya dalam bingkai sosial. Sialnya, makhluk yang bernama cinta ini dewasa ini agaknya ngilang-ngilang melulu. Sebab cinta
itu kata besar yang kualitasnya sama dengan kebenaran, kebaikan, kejujuran, keadilan,
kemuliaan dstnya yang selalu diklaim sebagai hal yang dimiliki oleh siapa saja yang
mengatakannya.Soalnya, mengapa sang cinta suka ngilang-ngilang melulu? Banyaklah
kemungkinannya. Di antaranya, barangkali pusing memikirkan diri sebagai biang
konflik.
Jadi, keraguan agaknya juga harus masuk di halaman, apabila cinta itu ibarat buku.
Tetapi apa yang meresahkan dari keraguan? Bukankah dia cuma sisi lain dari
kepercayaan? Jika hal ini masih dikejar juga dalam penalaran logika, tidak usah kuatir,
sebab cinta itu justru baru menjadi relatif jelas jika disandingkan dengan kepalsuan dan
keraguan. Logika dan penalaran tentangnya, bisa disimak dari tiga jalur penalaran.
Pertama, cinta itu bagai cahaya matahari, menyilaukan, membuat orang enggan
memandangnya berlama-lama. Cinta memang maya tapi bisa jadi perangkap. Sekali
manusia terperangkap, ia akan terus gelisah mencarinya.
Kedua, kepalsuan itu bagai cahaya bintang-bintang yang indah, memikat banyak orang.
Dari sini manusia bisa terjerumus dalam cinta semu dan palsu, yang manakala
terbongkar, akan jadi faktor yang menghancurkan diri sendiri.
Ketiga, dalam konteks dua jalur penalaran tersebut, muncul keraguan, sebagai faktor
yang melekat dalam cinta. Keraguan menjadi prasyarat menuju cinta. Dengan bijak
menyikapi keraguan, maka ziarah mencari cinta tak akan tegang ialah "menerima"
kepalsuan dan kebobrokan sebagai realitas hidup. Juga, menerima sosok gelap tersebut
sebagai "jodoh" atau sisi lain cinta. Apabila tiga jalur itu penalaran itu dikembangkan, maka akan tak seorang pun bisa
mengklaim diri sebagai wasit, manakala berhadapan dengan fenomena bernuansa cinta.
Sebab, cinta selalu beriring dengan kebaikan dan keindahan, yang membuat manusia
menemukan keberanian baru untuk menghadapi apapun.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DIALEKTIKA KASIH VERTIKAL
Cinta Manusia terhadap PenciptaNya
Semua agama yang dikenal manusia, memandang dunia sebagai ujian, gelanggang
tempat manusia ditempa menjadi makhluk yang lebih mulia. Dunia adalah sejenis kelas
di mana manusia dididik untuk mengembangkan kapasitas-kapasitasnya.
Dalam sejarah, setidaknya ada dua kutub besar pandangan tentang dunia sebagai
gelanggang. Kutub pertama adalah mereka yang melihat dunia sebagai kelas taman
kanak-kanak. Mereka ini memang menganggap bahwa manusia pada dasarnya adalah
bocah culun yang mungkin saja semurni malaikat tetapi sangat mudah menjadi mangsa
setan. Manusia bahkan dianggap sangat gampang menjadi setan itu sendiri.
Para penganut agama yang berjuang keras untuk mewujudkan syariah yang dipeluknya di dunia ini, adalah kaum yang dekat dengan kutub yang memandang dunia sebagai kelas taman kanak-kanak ingusan. Kalangan yang penuh tenaga membara ini, kadang disebut oleh pihak-pihak tertentu sebagai barisan fanatik, gerombolan bigot. Namun demikian, mereka juga bisa dilihat sebagai kelompok yang sangat peduli pada keselamatan ummat dan dunianya yang dilihat sebagai kanak- kanak dengan kelasnya yang gampang rusak. Atas nama keselamatan ummat, mereka bersedia melakukan apa saja, dan mengorbankan apa pun, termasuk milik mereka yang paling berharga: nyawa mereka sendiri. Bagi mereka, untuk meyelamatkan ummat dari kebangkrutan, maka otoritas yang kukuh harus dihadirkan di dunia, sebagaimana dihadirkannya sang guru di tengah kelas taman kanak-kanak. Guru yang hadir sebagai pusat kelas, selain menciptakan tatanan, juga bisa membantu langsung murid-murid yang mengalami kesulitan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Para penganut agama yang berjuang keras untuk mewujudkan syariah yang dipeluknya di dunia ini, adalah kaum yang dekat dengan kutub yang memandang dunia sebagai kelas taman kanak-kanak ingusan. Kalangan yang penuh tenaga membara ini, kadang disebut oleh pihak-pihak tertentu sebagai barisan fanatik, gerombolan bigot. Namun demikian, mereka juga bisa dilihat sebagai kelompok yang sangat peduli pada keselamatan ummat dan dunianya yang dilihat sebagai kanak- kanak dengan kelasnya yang gampang rusak. Atas nama keselamatan ummat, mereka bersedia melakukan apa saja, dan mengorbankan apa pun, termasuk milik mereka yang paling berharga: nyawa mereka sendiri. Bagi mereka, untuk meyelamatkan ummat dari kebangkrutan, maka otoritas yang kukuh harus dihadirkan di dunia, sebagaimana dihadirkannya sang guru di tengah kelas taman kanak-kanak. Guru yang hadir sebagai pusat kelas, selain menciptakan tatanan, juga bisa membantu langsung murid-murid yang mengalami kesulitan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hakim Yang Manusia
Buruknya pula, semua orang suka jadi hakim. Dan, hakim yang bodoh adalah secelakacelakanya keadaan.
Kebodohan ini pulalah yang sudah membunuh Socrates, Giordano Bruno, dan Galileo,
dan Jesus. Begitu kata Pramoedya Ananta Toer dalam cerpen Dendam.
Kebenaran
Apakah salah dan benar itu? Salah dan benar itu paradoks. Sesuatu dinilai benar oleh
guru, di mata murid-murid salah. Benar menurut tentara, salah besar menurut rakyat.
Benar oleh orang kelaparan, salah bagi mereka yang kekenyangan. Ahli pikir yang satu
berseberangan dengan ahli pikir yang lain. Jadi, mana yang benar dan mana yang salah?
Setiap orang mempunyai "kebenaran" sendiri. Dan kebenaran itulah yang dipakai untuk
menghakimi yang lain. Nilai salah dan benar seperti itu pada dasarnya adalah
pengetahuan, yaitu pendidikan. Jadi, bersifat subyektif, baik individual maupun
kolektif. Setiap orang dididik untuk belajar pasal-pasal kebenaran dan kesalahan dalam
berbagai versinya. Dan seperti kita lihat, bisa saling bertentangan. Yang benar dinilai
salah, yang salah dinilai benar, tergantung dari "ajaran" mana Anda berasal.
Membunuh dan menganiaya dalam pikiran itu boleh-boleh saja, tetapi kalau
penghakiman itu mengetok palu pada kehidupan ini, maka yang mati benar-benar mati,
yang luka itu benar-benar menderita. Inilah nilai-nilai yang terasa, terhayati, eksisten,
dunia itu sendiri.
Menghakimi dalam pikiran itu, selama belum dinyatakan dalam perbuatan, adalah
urusan tiap orang. Tetapi, begitu dinyatakan dalam pengalaman, ia telah menyangkut
banyak orang. Entah ia dinyatakan, dalam ucapan lisan atau tertulis, dan lebih-lebih
dalam peristiwa.
Hati Nurani
Benar dan salah itu bisa dicari dalam bentuk peristiwa itu sendiri, bukan dari pasalpasal pikiran subyektif. Nilai-nilai benar dan salah tersebut telah ada dalam bentuk
tindakan. Dan pasal-pasalnya tidak bisa ditulis atau diungkapkan karena berada di
kedalaman nurani manusia. Kebenaran obyektif itu bersifat spirifual. Orang banyak menyebutnya "Hati Nurani". Dari anak-anak sampai kakek-kakek, dari yang bodoh
sampai yang tinggi pengetahuan, dari yang berkuasa sampai yang dikuasai, dari satu
ajaran kebenaran sampai ajaran kebenaran yang lain, dari yang termiskin sampai yang
kaya raya, semua memiliki kebenaran itu. Tetapi kebenaran itu ada di lubuk hati
manusia. Biasanya baru disadari dalam renungan yang mendalam.
Penghakiman, menentukan benar dan salah, adalah kesesuaian antara hati nurani dan
peristiwanya sendiri. ltulah keadilan. Hati nurani melihat, manusia tidak melihatnya.
Bertindak adil, menghakimi secara adil, adalah penghakiman hati nurani yang melewati
proses perenungan yang tidak sederhana.
Menghakimi secara cepat adalah penghakiman subyektif manusia. Menghakimi
manusia lain itu tidak bisa serta-merta dengan bekal kebenarannya sendiri-sendiri.
Menghakimi itu merenungi. Dan selama merenung jangan berbuat apa-apa, juga dalam
ucapan, apalagi tindakan.
Kebenaran Subyektif
Kalau manusia mau bertindak sebagai hakim, ia harus cerdas secara subyektif. Orang
ini menyadari, nilai-nilai kebenarannya subyektif, dan karena itu terbatas. Untuk itu ia
harus terbuka, toleran, mau mendengar "kebenaran-kebenaran" yang lain. Hakim yang
bodoh adalah hakim yang berkacamata kuda. Hanya melihat satu arah dan tidak mau
mendengarkan arah kiri kanan dan belakang. Sejarah membuktikan, penghakiman
seperti ini memakan korban seperti disebutkan Pram, Socrates, Galileo, Bruno, dan
ribuan yang lain.
Hakim manusia yang terbuka dan reflektif itulah yang obyektif, yaitu hakim yang cerdas
emosi dan spiritualnya. Ia mampu melihat kebenaran dan kesalahan yang melampaui
batas-batas kebenarannya yang subyektif, personal, maupun kolektif. Kejujuran pada
diri sendiri itulah yang dibutuhkan. Kebenaran yang padanya saya menyatakan ya,
bernilai positif dan saya butuhkan, selalu lebih besar, lebih luas, dan lebih dalam dari
dunia ini. Orang kadang melakukan perbuatan benar atau salah di luar dugaan siapa
pun sehingga orang dibuat bingung untuk menilainya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan
Dalam ilmu pengetahuan sudah lama dikenal archaeology of knowledge yang memberi
inspirasi bahwa pengetahuan pun ada silsilahnya.
Dalam karya indah Fritjof Capra berjudul The Tao of Physics bisa ditemukan tidak saja
jejak-jejak pengetahuan Newton, Einstein, dan Heisenberg, tetapi juga bisa ditemukan
sidik-sidik jari Confusius, Buddha, dan Krishna. Di bagian tertentu temuan Fritjof Capra
(doktor fisika kelahiran Austria) tentang atom dan subatom, bahkan diberi judul The
Dancing of Shiva. Yang menggembirakan, tidak saja di Barat ada sintesis Barat- Timur
ala Fritjof Capra, di Timur juga ada sintesis serupa, Yongey Mingyur Rinpoche dalam
The Joy of Living, tidak saja fasih berbicara meditasi, tetapi juga mendalam ketika
mengulas fisika, biologi, sampai psikologi kognitif. Bila ia fasih dengan nama-nama
seperti Dalai Lama, Karmapa, Tilopa, Marpa, dan Milarepa bisa dimaklumi karena
punya darah Tibet.
Namun, lebih dari itu, Mingyur Rinpoche juga fasih dengan karya-karya Niels Bohr,
Albert Einstein, sampai ahli biologi Francisco J Varela. Apa yang mau dikemukakan
melalui dua contoh ini, di mana- mana telah terjadi proses interaksi yang saling
memengaruhi. Kemudian membentuk wajah pengetahuan yang plural, toleran, dan
bersahabat.
Hujan, sungai, dan laut
Anak-anak di sekolah dasar hanya sedikit yang bisa bergelar doktor nantinya. Pejalan
kaki ke dalam diri juga sama. Amat sedikit yang bisa sampai di puncak gunung, seperti
Rumi, Mandela, dan Gandhi. Sebagaimana dicontohkan alam, kebanyakan orang
memulai perjalanan seperti hujan. Jalannya kencang, menghujam setiap hal yang ada
di bumi. Ini yang bisa menjelaskan mengapa sebagian lebih generasi muda mengisi
keseharian (belajar, bekerja) sambil bernyanyi lirik lagu maju tak gentar, membela yang
bayar.
Semangat, keras, dan penuh tenaga, itulah tanda-tanda manusia yang baru sampai di sini. Sebagian politikus, akademisi, dan pengusaha yang penuh ambisi ada dalam kelompok ini.
Hanya persoalan waktu, air sungai akan sampai di laut. Dan di laut seluruh kekerasan dan kelembutan (baca: dualitas) lebur menjadi satu. Pencapaian berjumpa laut seperti inilah yang dialami oleh orang-orang seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin Rumi, hingga Mahatma Gandhi. Tempat lahir, agama, dan negara mereka memang berbeda, tetapi ada yang sama di antara mereka: melakukan semuanya dengan cinta, menerima hasilnya dengan keikhlasan.
Semangat, keras, dan penuh tenaga, itulah tanda-tanda manusia yang baru sampai di sini. Sebagian politikus, akademisi, dan pengusaha yang penuh ambisi ada dalam kelompok ini.
Hanya persoalan waktu, air sungai akan sampai di laut. Dan di laut seluruh kekerasan dan kelembutan (baca: dualitas) lebur menjadi satu. Pencapaian berjumpa laut seperti inilah yang dialami oleh orang-orang seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin Rumi, hingga Mahatma Gandhi. Tempat lahir, agama, dan negara mereka memang berbeda, tetapi ada yang sama di antara mereka: melakukan semuanya dengan cinta, menerima hasilnya dengan keikhlasan.
Orangtua spiritual
Sebagai Ibu, laut adalah simbolik cinta karena apa saja yang datang diolah penuh cinta.
Sebagai ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa
keserakahan memilih. Inilah silsilah spiritual manusia-manusia agung, Ibunya cinta,
Ayahnya keikhlasan. Dalai Lama pernah berpesan, If you want others to be happy, practice
compassion. If you want to be happy, practice compassion. Mempraktikkan welas asih,
itulah rahasia kebahagiaan.
Dalam bahasa seorang guru Mahamudra, If one can rest the mind naturally, that’s the
supreme meditation. Saat batin bisa beristirahat secara alami, itulah puncak meditasi.
Keikhlasan berkontribusi besar dalam membuat batin beristirahat dalam kealamian. Ibarat
burung elang yang terbang indah di angkasa, demikian juga kehidupan yang berjumpa
orangtua spiritualnya: ikhlas, bebas, dan lepas.
Cinta membuat semuanya berguna, bermakna.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lukisan Indah Kebijaksanaan
Terowongan gelap tidak berujung, mungkin itu metafora kehidupan zaman ini.
Kekayaan kehidupan anak-anak biasanya harapannya akan masa depan. Dan, saat tua
tidak sedikit yang membanggakan masa lalu.
Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang. Namun, melalui tindakan pada masa
kini, keduanya bisa dibuat kian terang atau gelap. Sebutlah Ibu yang sudah meninggal,
tetapi belum sempat dibahagiakan. Masa lalu membuat kehidupan kian suram jika masa
kini diisi penyesalan, rasa bersalah, tidak bisa memaafkan diri sendiri. Sebaliknya ini
bisa menjadi awal terang jika pengalaman tidak mengenakkan ini dijadikan titik awal
untuk banyak membahagiakan orang.
Guru sebagai cahaya
Inilah tanda-tanda manusia yang mulai terbimbing. Dalam setiap kejadian
(menyenangkan maupun menjengkelkan) ada cahaya bimbingan. Di Timur, ia disebut
munculnya guru simbolik. Tidak ada kebetulan, semua hanya bimbingan. Cuma,
sebagian bisa dimengerti kini, sebagian dimengerti nanti.
Karena itu, tidak sedikit pencari yang menghabiskan waktu, tenaga, dan dana untuk
mencari guru. Idealnya, pencarian dimulai dengan berjumpa guru hidup. Lalu perintahperintah guru hidup ini diperkaya guru dalam bentuk buku suci. Ia yang sudah
memadukan guru hidup dengan buku suci lalu berjumpa guru simbolik dalam
keseharian. Puncaknya tercapai saat ketiga guru ini menjelma menjadi guru dalam diri.
Orang jenis ini seperti membawa lentera ke mana-mana. Tidak ada lagi kegelapan yang
tersisa.
Kematian
Bagi mereka yang belum diberkahi perjumpaan dengan guru hidup, disarankan
menjaga diri dengan etika. Praktik serius etika ini mungkin membimbing seseorang menjumpai guru simbolik. Di antara banyak guru simbolik, kematian adalah guru
simbolik paling agung.
Perhatikan pendapat Dzogchen Ponlop dalam Mind beyond death: ”in order to die well,
one must live well”. Agar matinya indah, belajarlah hidup secara indah (baca: hidup
penuh cinta).
Maka, tidak sedikit guru meditasi yang menggunakan kematian sebagai sumber air
perenungan yang tidak habis-habis. Pertama-tama meditator membayangkan tubuhnya
mati. Badan kaku, membiru, orang-orang dekat menangis dan seterusnya.
Inilah ujung terowongan kegelapan. Lalu muncul cahaya bimbingan. Kegagalan,
ketakutan, bahkan kematian pun memancarkan sinar terang pengertian. Karena
ketakutan akan kematian adalah ibu semua ketakutan, maka begitu ia lenyap, ketakutan
lain pun sirna. Sebagai hasilnya, batin menjadi bersih dan jernih sempurna. Cirinya cara
memandang, niat, kata-kata, perbuatan, sumber penghasilan, daya upaya, perhatian
dan konsentrasi semua menjadi serba bijaksana. Kehidupan lalu berubah wajah menjadi
lukisan indah kebijaksanaan. Gambarnya cinta, bingkainya keikhlasan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Merenungkan Pikiran Erotis
"Kemenangan yang sejati adalah mengalahkan diri sendiri” (Miguel de Cervantes
dalam Don Quixote). Manusia-manusia mulia atau mereka yang tercerahkan
mengajarkan bahwa solusi untuk berbagai derita hidup tidak berada di luar, tetapi di
dalam diri kita. Keberhasilan menemukan jati diri ditopang oleh keinginan kuat untuk
mengenal gejolak-gejolak batin, mengamati gerak-geriknya, menenangkannya, dan
berkuasa atasnya.
Salah satu dari gejolak kejiwaan yang tersulit untuk dihadapi adalah pikiran. Banyak
tradisi mistis menekankan perlunya menenangkan pikiran. Bila berhasil, pikiran yang
teduh akan muncul dan membuka jalan menuju keintiman dengan Yang Ilahi. Proses
inilah yang kerap digambarkan sebagai rute tubuh-pikiran-jiwa-roh (body-mind-soulspirit). Kesulitan menenangkan pikiran disebabkan oleh fluktuasinya yang liar,
supercepat, dan sering kali berada di luar kontrol kesadaran. Siddharta Gautama
mengungkapkannya lebih jelas ketika ia mengatakan bahwa dalam satu kedipan mata,
ada 17 x 1.021 momen pikiran yang berfluktuasi.
Ketenangan pikiran dicapai dengan membawanya dari level terpencar (scattered mind)
menuju level terkonsentrasi (concentrated mind). Pada level terpencar, pikiran sangat
labil dan mudah terusik oleh rangsangan sehingga rentan menimbulkan kecemasan dan
ketidakstabilan emosional. Orang yang sampai pada pikiran terkonsentrasi menerima
rangsangan tanpa terganggu. Dalam Taoisme, ini digambarkan sebagai cermin atau
permukaan telaga yang tenang.
Pikiran simbolis
Saat ini ada gejolak pikiran yang cukup ramai dibicarakan, yaitu pikiran erotis (erotic
mind). Di satu sisi, ada keinginan baik untuk mengontrol dan mengawasi ”kenakalan”
pikiran ini lewat Rancangan Undang-Undang Pornografi yang sudah ditetapkan sebagai
undang-undang. Harapan mulianya adalah moralitas masyarakat menjadi lebih baik.
Di sisi lain, muncul argumen-argumen yang menolaknya dengan alasan: menyesatkan
secara substansial, melukai pluralitas, mengalihkan permasalahan esensial,
mengancam industri kreatif, mengeksplotasi wanita, memunculkan inkonsistensi
internal dalam undang-undang.
Pria korban pornografi
Gejolak seksual (sexual arousal) melekat dengan kondisi riil kita sebagai makhluk
bertubuh. Adalah wajar bila kita hidup dengan hasrat seksual, tetapi menjadi janggal
ketika kita hidup demi hasrat seksual. Kehadiran pornografer atau pornoaktor adalah
respons bagi mereka yang hidup demi hasrat seksual di mana wanita kerap dijadikan
pajangan.
Jelas bahwa baik pria maupun wanita dirugikan lewat pornografi dan pornoaksi.
Pornografi menjauhkan kita dari makna lebih dalam hubungan pria-wanita. Ketika
suami jauh dari istri, apakah ia sibuk memikirkan kaki, tangan, mata, pinggul, atau
rambut istrinya? Saya kira tidak. Pikiran yang lebih dominan adalah kecemasan berada
jauh dari cinta dan perhatian sang istri.
Esensi kewanitaan bagi kita (pria dan wanita) perlu kembali dihidupkan. Setiap kita
punya ibu yang adalah wanita, saudara kandung yang adalah wanita, atau sahabat karib
yang juga adalah wanita. Mereka ini menghadirkan makna paling dasar dari hubungan
pria-wanita yang kualitasnya digerus pornografi.
Sentuhan inheren
Kembali ke pikiran terkonsentrasi. Salah satu teknik yang diajarkan dalam tradisi Timur
untuk sampai pada pikiran ini adalah apa yang dalam pemikiran Barat disebut
mindfulness atau yang dalam pemikiran Jawa disebut awas. Awas adalah upaya pribadi
mengenali gejolak-gejolak batin (self-awareness).
Menumbuhkan kesadaran sebaiknya tidak melulu berupa paksaan dari luar. Ketika seorang ibu melihat anaknya bermain pisau, ia bisa saja mengatakan, ”Jangan bermain pisau!”. Cara seperti ini sering kali manjur untuk memaksa anak berhenti. Sayangnya, si anak tidak menyadari alasannya. Ada cara lain. Ibu bisa mengambil sepotong daging mentah, menyayatnya dengan pisau, dan mengatakan, ”Ini lho bahayanya kalau kamu main pisau”. Cara ini mengajak anak berhenti sambil menyadari bahaya main pisau.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Menumbuhkan kesadaran sebaiknya tidak melulu berupa paksaan dari luar. Ketika seorang ibu melihat anaknya bermain pisau, ia bisa saja mengatakan, ”Jangan bermain pisau!”. Cara seperti ini sering kali manjur untuk memaksa anak berhenti. Sayangnya, si anak tidak menyadari alasannya. Ada cara lain. Ibu bisa mengambil sepotong daging mentah, menyayatnya dengan pisau, dan mengatakan, ”Ini lho bahayanya kalau kamu main pisau”. Cara ini mengajak anak berhenti sambil menyadari bahaya main pisau.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rakyat sebagai Kekasih Sejati
Beberapa bulan sebelum Indonesia masuk 2009, orang saling bertanya: ”Siapa ya,
sebaiknya presiden kita nanti?” Kemudian mereka menyebut sejumlah nama,
membandingkannya, memperdebatkannya, atau membiarkan nama- nama itu berlalu
dalam dialog yang tak selesai.
Atmosfer dialog tentang calon presiden diwarnai oleh berjenis-jenis nuansa, latar
belakang ilmu dan pengetahuan, kecenderungan budaya, fanatisme golongan,
pandangan kebatinan, juga berbagai wawasan yang resmi maupun serabutan. Namun,
semuanya memiliki kesamaan: perhatian yang mendalam kepada kepemimpinan
nasional dan cinta kasih yang tak pernah luntur terhadap bangsa, tanah air, dan negara.
Memiliki pola kearifan
Rakyat Indonesia, entah apa asal-usul genealogis dan peradabannya dahulu kala,
memiliki pola kearifan, empati dan toleransi, serta semacam sopan santun yang khas
dan luar biasa. Bagi rakyat, Ibu Pertiwi itu semacam Ibunya, Negara (KRI) itu semacam
Bapaknya, dan pemerintah itu kekasihnya. Kekasih yang selalu disayang, dimaklumi,
dimaafkan. Suatu saat rakyat bisa sangat marah kepada pemerintah, tetapi cintanya
tetap lebih besar dari kemarahannya sehingga ujung kemarahannya tetap saja
menyayangi kembali, memaklumi, dan memaafkan.
Rakyat Indonesia sangat tangguh sehingga posisinya bukan menuntut, menyalahkan, dan menghukum pemerintahnya, melainkan menerima, memafhumi kekurangan, dan sangat mudah memaafkan kesalahan pemerintahnya. Bahkan, rakyat begitu sabar, tahan dan arifnya tatkala sering kali mereka yang dituntut, dipersalahkan, dan dihukum oleh pemerintahnya. Itulah kekasih sejati.
Rakyat Indonesia sangat tangguh sehingga posisinya bukan menuntut, menyalahkan, dan menghukum pemerintahnya, melainkan menerima, memafhumi kekurangan, dan sangat mudah memaafkan kesalahan pemerintahnya. Bahkan, rakyat begitu sabar, tahan dan arifnya tatkala sering kali mereka yang dituntut, dipersalahkan, dan dihukum oleh pemerintahnya. Itulah kekasih sejati.
Puncak kekuatan dan cinta rakyat Indonesia, si kekasih sejati, kepada pemerintahnya, adalah menumbuhkan rasa percaya diri kekasihnya, menjaga jangan sampai kekasihnya merasa tak dibutuhkan. Rakyat Indonesia selalu memelihara suasana hubungan yang membuat pemerintah merasa mantap bahwa ia sungguh-sungguh diperlukan oleh rakyatnya. Rakyat Indonesia selalu bersikap seolah-olah ia membutuhkan pemerintahnya, presidennya, beserta seluruh jajaran birokrasi tugas dan kewajibannya. Bahkan, rakyat mampu menyembunyikan rasa sakit hatinya agar si pemerintah kekasihnya tidak terpuruk hatinya dan merasa gagal.
Rakyat sangat menjaga diri untuk tidak mengungkapkan bahwa siapa pun presiden yang terpilih nanti tak akan benar-benar mampu menyelesaikan komplikasi masalah yang mengerikan yang mereka derita. Rakyat tidak akan pernah secara transparan menyatakan bahwa seorang presiden saja, siapa pun dia, takkan sanggup berbuat setingkat dengan tuntutan dan kebutuhan obyektif rakyatnya meski disertai kabinet yang dipilih tanpa beban pembagian kekuasaan dan berbagai macam bentuk kolusi, resmi maupun tak resmi.
Kemuliaan kedua yang dilakukan rakyat adalah jika pemilu tiba, mereka tetap memilih salah seorang calon pemimpin karena berani menanggung risiko hidup yang tidak aman. Keberaniannya menanggung risiko itu mencerminkan kekuatan hidupnya, yang sudah terbukti berpuluh-puluh tahun di rumah negaranya.